Segel Membisu, Pedagang Menjerit: Kios Pasar Souvenir Tataaran Dipaksa Kosong Di Tengah Lesunya Ekonomi
KRIMSUSPOLRI. COM||Minahasa — Kondisi Pasar Souvenir yang berlokasi di Tataaran Patar
, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, kian memprihatinkan. Sejumlah kios dilaporkan disegel oleh Koperasi Tondano Indah, memicu kekecewaan mendalam dari para penyewa yang mengaku hanya mengalami keterlambatan pembayaran akibat menurunnya pendapatan.
Para pedagang menyebut, lesunya aktivitas ekonomi dipicu oleh masa libur mahasiswa, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama perputaran ekonomi di kawasan tersebut.
Akibat penyegelan itu, barang dagangan para penyewa terpaksa dikeluarkan dari kios, meski bangunan kios tersebut disebut didirikan secara mandiri oleh pedagang, bukan oleh pihak koperasi.
“Kami bukan tidak mau membayar. Kami hanya terlambat karena pendapatan sedang pas-pasan. Mahasiswa sedang libur,” ungkap salah satu penyewa kios dengan nada kecewa.
Peristiwa tersebut terpantau media pada Senin, 26 Januari 2026, di salah satu kios yang disegel dan diketahui milik seorang pedagang bernama Siul Memili. Para pedagang mengaku telah mengajukan permohonan kepada Ketua Koperasi Pasar Souvenir agar pembayaran tunggakan dapat dicicil, namun permintaan tersebut tidak dikabulkan.
“Kami sudah mohon kebijakan. Kami minta agar pembayaran bisa dicicil karena kondisi sedang sulit, tapi tidak ada kelonggaran,” ujar seorang pedagang lainnya.
Tak hanya soal penyegelan, para penyewa kios juga menyampaikan keluhan serius terkait status hukum sewa kios. Mereka mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun menempati kios, tidak pernah menerima surat perjanjian atau kontrak resmi.
“Kami hanya menerima kwitansi pembayaran tahunan. Tidak pernah ada kontrak tertulis sebagai penyewa. Koperasi hanya datang menagih, tetapi tidak pernah melakukan perbaikan pasar,” tutur salah satu penyewa.
Sementara itu, Ketua Koperasi Tondano Indah, Johny Max Rattu, saat dikonfirmasi media pada 26 Januari 2026 di Kompleks Pasar Souvenir Tataaran, tidak memberikan keterangan dan memilih diam.
Hingga berita ini diturunkan, para pedagang berharap adanya dialog terbuka dan kebijakan yang lebih manusiawi, mengingat pasar tersebut menjadi sumber utama penghidupan mereka.
(Saril M)



