Anak Buruh Bangunan Wawancarai Profesor di Notre Dame University
KRIMSUSPOLRI.COM || Medan - Tidak banyak anak yang tumbuh dari keluarga sederhana kemudian memiliki kesempatan untuk berdiskusi dan melakukan wawancara akademik dengan seorang profesor yang mengajar di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Namun, bagi Raden Bagus Astaman, perjalanan tersebut berawal dari sesuatu yang sederhana: rumah, seorang ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan, dan kebiasaan Senin 31/8/26
Raden Bagus Astaman baru saja menamatkan studi Magister Pemikiran Politik Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumatera Utara).
Dalam penelitian tesisnya, Raden mengangkat isu sekularisasi dengan meneliti pemikiran Mun’im Sirry, intelektual Indonesia yang mengajar di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat.
Untuk mendalami pemikiran tersebut, Raden melakukan wawancara dengan Mun’im Sirry melalui media Zoom. Bagi Raden, kesempatan tersebut bukan sekadar bagian dari proses penelitian, tetapi juga menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya.
Menariknya, perjalanan intelektual Raden tidak lahir dari keluarga akademisi. Ayahnya, Jamin Astaman, merupakan seorang buruh bangunan. Namun, di tengah kesederhanaan kehidupan, sang ayah memiliki satu kebiasaan yang kemudian sangat mempengaruhi kehidupan Raden: membaca.
Raden mengaku kegemarannya membaca banyak dipengaruhi oleh kebiasaan sang ayah.
> “Ayah gemar membaca. Saya meyakini contoh itulah yang membuat saya gemar membaca. Walau seorang buruh, bacaan buku Ayah terbilang berat. Nalarnya maju dan di atas rata-rata. Saya menyebutnya profesor tanpa gelar,” ungkap Raden.
Menurut Raden, sosok ayahnya memberikan pelajaran bahwa pendidikan dan keluasan berpikir tidak selalu ditentukan oleh pekerjaan maupun gelar akademik. Jamin mungkin tidak memiliki gelar profesor, tetapi kebiasaan membaca dan cara berpikirnya menjadi teladan yang membentuk karakter intelektual sang anak.
Dari kebiasaan tersebut, Raden kemudian tumbuh menjadi seseorang yang gemar membaca sekaligus terus belajar menulis. Membaca dan menulis baginya bukan hanya kebutuhan akademik, melainkan bagian dari proses untuk memahami berbagai persoalan kehidupan.
Kegemarannya membaca kemudian membawanya memasuki dunia Pemikiran Politik Islam. Dalam penelitian magisternya, Raden memilih mengkaji pemikiran Mun’im Sirry, terutama mengenai konsep sekularisasi dan hubungan agama dengan negara.
Dari penelitian tersebut, Raden menemukan bahwa sekularisasi tidak tepat dipahami secara sederhana sebagai upaya memisahkan agama dari negara. Sekularisasi lebih tepat dilihat sebagai proses diferensiasi, yaitu proses pembedaan fungsi dan ranah antara institusi agama dan institusi negara.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian Raden. Agama tidak serta-merta kehilangan tempat dalam kehidupan publik hanya karena terjadi diferensiasi antara agama dan negara.
Wawancara dengan Mun’im Sirry melalui Zoom menjadi bagian penting dalam upaya Raden memahami gagasan tersebut secara langsung dari pemikir yang ditelitinya.
Perjalanan Raden menjadi gambaran bahwa keterbatasan latar belakang keluarga tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai pendidikan tinggi. Dari seorang ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan, lahir seorang anak yang memilih membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi dengan seorang profesor di Amerika Serikat.
Bagi Raden, kisah tersebut bukan semata tentang pencapaian akademik. Ada sosok Jamin Astaman di baliknya—seorang ayah yang mungkin tidak memiliki gelar akademik tinggi, tetapi mewariskan sesuatu yang jauh lebih penting: keteladanan untuk terus membaca dan belajar.
“Gelar boleh berbeda, pekerjaan boleh berbeda, tetapi semangat untuk belajar tidak mengenal batas,” demikian semangat yang tergambar dari perjalanan Raden Bagus Astaman.

