24 C
en

JERITAN DARI BILIK BOLONG: TUKANG ONDE KELILING DI SUKABUMI TERASING DARI BANSOS, ANAK TAK KEBAGIAN MBG _“Kami Makan Aja Kekurangan, Apalagi Benerin Rumah” — Udin, 35 Tahun_

 


KRIMSUSPOLRI.COM || SUKABUMI – Di balik rimbunnya perbukitan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, tersimpan ironi yang merobek nurani. 

Sebuah rumah bilik bambu di Kampung Cigedang, RT 22/RW 04, Desa Nangerang, berdiri limbung melawan waktu. Dindingnya koyak, bolong di sana-sini, dan angin malam bebas keluar-masuk tanpa permisi. Inilah istana milik Udin (35), seorang tukang kue onde keliling.

Hidup dari hasil menjajakan onde dari kampung ke kampung, Udin mengaku tak sanggup memperbaiki rumahnya yang kian reyot. Jangankan membeli semen dan bata, untuk mengisi perut anak-istri pun ia sudah kekurangan.

“Sehari keliling kadang cuma laku 20 biji, Pak. Untungnya buat beli beras sekilo aja pas-pasan. Mau benerin bilik yang bolong gimana, buat makan aja kami susah,” tutur Udin lirih saat ditemui, Senin (22/06/2026).

BERATAP LANGIT, BERDINDING ANGIN

Kondisi hunian Udin jauh dari kata layak. Tak ada sejengkal pun tembok semen. Seluruh bagiannya murni bilik bambu yang sudah lapuk dimakan usia. Saat hujan, air menetes dari atap. Saat malam, dingin menusuk tulang karena tak ada penghalang.

Yang lebih memilukan, drama kemiskinan kasat mata ini diduga luput dari perhatian pemerintah, mulai dari Desa Nangerang, Kecamatan Jampang Tengah, hingga Pemkab Sukabumi.

ANEH, RUMAH BOLONG KOK GAK MASUK RUTILAHU!”

Fakta pahit ini terungkap setelah Pemerhati Sosial, Paul, melakukan investigasi. Melihat Udin dan keluarganya bertaruh nyawa di dalam bilik lapuk, Paul mengecam lambatnya respons birokrasi.

“Ini melukai rasa keadilan. Kondisinya sudah darurat! Rumah full bilik bolong, tapi tidak masuk program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu)*. Lebih parah, keluarga ini sama sekali tidak dapat bansos dari Dinsos maupun Baznas Kabupaten Sukabumi,” tegas Paul geram.

Paul mendesak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Sukabumi tidak hanya menunggu laporan di meja. “Turun ke lapangan! Jangan nunggu rumah ini roboh dan makan korban baru sibuk saling lempar tanggung jawab,” cetusnya.

ANAK SD & SMP GIGIT JARI, MBG MENGUAP

Penderitaan Udin berlipat. Di tengah gembar-gembor program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, anak-anak Udin yang duduk di bangku SD dan SMP justru tak kebagian jatah sama sekali.

Hak anak dari keluarga prasejahtera ini menguap begitu saja. Belum jelas apakah karena administrasi kependudukan yang semrawut atau kelalaian pendataan di tingkat desa dan sekolah.

BIROKRASI MEMBISU, SEMUA BUNGKAM

Skandal kemanusiaan ini memicu tanya: Di mana kehadiran negara? Ke mana larinya anggaran pengentasan kemiskinan?

Hingga berita ini diturunkan, Pemdes Nangerang, Kecamatan Jampang Tengah, Disperkim, Dinsos, hingga Baznas Kabupaten Sukabumi kompak bungkam. Tak ada satu pun klarifikasi mengapa keluarga Udin—dengan rumah bilik bolong dan profesi tukang onde keliling—bisa lolos dari seluruh jaring pengaman sosial.

Masyarakat kini menunggu. Akankah para pemangku kebijakan baru datang setelah jeritan dari bilik bolong ini viral? Atau Udin sekeluarga harus selamanya berteman dengan dinginnya angin malam yang menembus dinding rumah mereka?

Tim Redaksi Krimsuspolri.com

_Catatan Redaksi: Krimsuspolri.com membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak terkait dalam berita ini demi keberimbangan informasi dan asas praduga tak bersalah.







Older Posts
Newer Posts